confirmation bias
mengapa kita hanya mencari informasi yang mendukung pendapat kita saja
Pernahkah kita berada di tengah perdebatan panas di grup WhatsApp keluarga? Seseorang mengirim tautan artikel yang isinya sangat kontroversial. Kita membaca judulnya, darah kita mendidih, lalu jemari kita otomatis mengetik bantahan. Kita buka mesin pencari. Kita ketik kata kunci yang spesifik. Dalam hitungan detik, kita menemukan artikel lain yang membuktikan bahwa kita benar dan mereka salah. Kita kirim tautan itu dengan perasaan menang. Skakmat.
Namun, mari kita jujur pada diri sendiri. Pernahkah kita memikirkan sesuatu yang aneh dari proses tersebut? Lawan debat kita di grup itu juga melakukan hal yang persis sama. Mereka mencari, mereka menemukan, dan mereka juga merasa menang. Kita sama-sama memegang gawai canggih dengan akses ke seluruh pengetahuan umat manusia. Lalu, mengapa kita bisa melihat data yang sama, hidup di dunia yang sama, namun sampai pada kesimpulan yang saling bertolak belakang?
Rasanya seperti ada semacam sihir tak kasatmata yang mengendalikan cara kita menelan informasi. Sebuah sihir yang membuat kita merasa selalu menjadi tokoh utama yang paling rasional.
Sihir ini sebenarnya bukan barang baru. Jauh sebelum era media sosial atau algoritma internet diciptakan, manusia sudah bergulat dengan masalah ini. Mari kita mundur sejenak ke tahun 1620. Seorang filsuf dan bapak metode ilmiah asal Inggris, Francis Bacon, menuliskan sebuah observasi yang sangat tajam tentang sifat dasar manusia.
Bacon menyadari satu pola. Ketika akal manusia sudah mengadopsi sebuah pendapat, akal itu akan menarik segala hal lain untuk mendukung dan menyetujui pendapat tersebut. Meskipun ada lebih banyak bukti yang berlawanan, kita cenderung mengabaikannya. Kita menolaknya. Atau kita mencari seribu satu alasan untuk meremehkannya.
Observasi Bacon ini memicu sebuah pertanyaan besar. Mengapa otak kita—organ yang seharusnya menjadi mesin pemikir paling canggih di alam semesta—berperilaku layaknya pengacara sewaan yang keras kepala, alih-alih menjadi hakim yang objektif? Apa sebenarnya yang terjadi di balik tengkorak kepala kita setiap kali kita berhadapan dengan informasi baru?
Untuk menjawabnya, kita harus membedah isi kepala kita sendiri. Secara biologis, otak kita adalah mesin yang sangat rakus. Walaupun beratnya hanya sekitar dua persen dari total berat badan, otak menyedot sekitar dua puluh persen energi kita. Karena berpikir keras itu sangat menguras tenaga, otak kita berevolusi untuk menjadi sangat efisien. Atau bahasa jujurnya: otak kita suka malas.
Otak menciptakan jalan pintas mental yang disebut heuristics. Daripada harus menganalisis setiap informasi secara mendalam, otak memilih jalan yang paling hemat energi. Ketika kita membaca informasi yang sejalan dengan apa yang sudah kita yakini, otak kita tidak perlu bekerja keras. Kita langsung menerimanya. Lebih asyik lagi, otak memberikan hadiah berupa kucuran hormon dopamin. Kita merasa nyaman, aman, dan pintar.
Namun, ada sebuah temuan sains yang jauh lebih mengejutkan. Beberapa tahun lalu, ilmuwan saraf melakukan pemindaian otak menggunakan teknologi fMRI pada orang-orang yang sedang dihadapkan pada fakta yang membantah keyakinan politik mereka. Tebak bagian otak mana yang menyala? Bukan bagian logika. Yang menyala merah adalah amygdala, yakni pusat rasa takut dan ancaman di otak kita.
Di sinilah letak teka-tekinya. Mengapa membaca opini yang berbeda di internet bisa memicu reaksi otak yang sama persis seperti saat kita sedang dikejar harimau di tengah hutan?
Inilah momen di mana kita menyingkap rahasianya. Fenomena ini dalam psikologi dikenal dengan nama bias konfirmasi (confirmation bias). Dan ini sama sekali bukan tentang seberapa pintar atau bodohnya kita. Ini murni tentang insting bertahan hidup.
Mari kita kembali ke puluhan ribu tahun yang lalu di padang sabana. Nenek moyang kita hidup dalam kelompok kecil. Bagi mereka, diasingkan dari kelompok sama saja dengan hukuman mati. Sendirian di alam liar berarti mati kelaparan atau dimangsa hewan buas. Oleh karena itu, otak kita berevolusi untuk memprioritaskan harmoni sosial di atas kebenaran objektif. Menyetujui apa yang dipercayai oleh suku kita adalah cara paling aman untuk tetap hidup. Keyakinan kita menjadi identitas kita.
Jadi, ketika ada fakta baru yang mengancam keyakinan kita, otak kita tidak melihatnya sebagai sekadar "informasi yang salah". Otak kita melihatnya sebagai ancaman terhadap identitas dan eksistensi kita di dalam kelompok. Itulah mengapa bias konfirmasi sangat sulit dilawan. Kita secara tidak sadar hanya memfilter, mencari, dan mengingat informasi yang memperkuat benteng identitas kita, sambil menembak mati setiap fakta yang mencoba mendekat. Kita tidak sedang mencari kebenaran. Kita sedang mempertahankan nyawa psikologis kita.
Memahami sains di balik bias konfirmasi seharusnya membuat kita lebih rendah hati. Teman-teman, kita semua memakai kacamata kuda yang sama. Ilmuwan bergelar doktor, politikus, hingga paman kita di grup keluarga—tidak ada yang kebal dari bias ini. Otak kita memang dirancang secara default untuk menjadi keras kepala.
Namun, justru di situlah letak keindahan dari berpikir kritis. Berpikir kritis berarti kita secara sadar melawan insting purba kita sendiri.
Mulai sekarang, ketika kita membaca sebuah berita dan langsung merasa "Tuh kan, saya bilang juga apa!", cobalah untuk menarik napas panjang. Berhentilah sejenak. Tanyakan pada diri kita sendiri: apakah saya sedang mencari fakta, atau saya hanya sekadar mengelus ego saya sendiri?
Mari kita biasakan diri untuk merasa tidak nyaman. Mari kita sengaja mencari pandangan yang berseberangan, bukan untuk didebat, tapi untuk dipahami. Karena pada akhirnya, mengubah pikiran ketika dihadapkan pada bukti yang lebih baik bukanlah sebuah kekalahan. Itu adalah tanda bahwa kita benar-benar hidup, bertumbuh, dan menolak untuk dikalahkan oleh ketakutan-ketakutan purba kita sendiri.